Thursday, April 30, 2015

SEBUAH PENGANTAR ILMU SEJARAH

Ini hanya Sebuah Pengantar Ilmu Sejarah yang coba saya share di blog ini. semoga bermanfaat.

"Orang tidak akan belajar sejarah kalau tidak ada gunanya."

"Kenyataan bahwa sejarah terus ditulis orang, di semua peradaban dan di sepanjang waktu, sebenarnya cukup menjadi bukti bahwa sejarah  itu perlu."



Sejarah, dalam bahasa Indonesia dapat berarti riwayat kejadian masa lampau yang benar-benar terjadi atau riwayat asal usul keturunan.

Umumnya sejarah dikenal sebagai informasi mengenai kejadian yang sudah lampau. Sebagai cabang ilmu pengetahuan, mempelajari sejarah berarti mempelajari dan menerjemahkan informasi dari catatan-catatan yang dibuat oleh orang perorang, keluarga, dan komunitas. Pengetahuan akan sejarah melingkupi: pengetahuan akan kejadian-kejadian yang sudah lampau serta pengetahuan akan cara berpikir secara historis. Ilmu Sejarah juga disebut sebagai Ilmu Tarikh atau Ilmu Babad.

Dahulu, pembelajaran mengenai sejarah dikategorikan sebagai bagian  dari Ilmu Budaya (Humaniora). Akan tetapi, di saat sekarang ini, Sejarah lebih sering dikategorikan sebagai Ilmu Sosial, terutama bila menyangkut perunutan sejarah secara kronologis.

Ilmu Sejarah mempelajari berbagai kejadian yang berhubungan dengan kemanusiaan di masa lalu. Sejarah dibagi ke dalam beberapa sub dan bagian khusus lainnya seperti kronologi, historiograf, genealogi, paleografi, dan kliometrik. Orang yang mengkhususkan diri mempelajari sejarah disebut sejarawan.

Pertanyaannya adalah: mengapa manusia mempelajari sejarah? Untuk menjawab pertanyaan itu ada baiknya bila kita lihat buku-buku yang mengajarkan sejarah di SD, SMP dan SMU. Lihat sejarah DI-NII di sana! Di buku-buku itu ada kepentingan Republik Indonesia Serikat!

Sejarah sangat identik dengan identitas. Sepanjang sejarahnya manusia selalu mencari tahu tentang siapa dirinya? Karena sudah menjadi sifat dasar manusia untuk mempunyai identitas tentang siapa dirinya. Identitas itu penting karena berkaitan dengan alasan seorang manusia hidup di dunia ini. Secara umum manusia mencari identitas tentang dirinya pada sejarah. 

Perhatikan peristiwa di sekitar seorang anak kecil. Seorang anak kecil ketika ditanya identitasnya, setelah diketahui namanya, si penanya biasanya kemudian menanyakan nama orang tuanya. Semakin dewasa seorang anak kecil, maka dia akan semakin berpikir tentang dirinya, dimulai dengan mengetahui asal-usul dia. Keturunan siapakah dia? Dari keluarga macam apakah dia berasal? Dan seterusnya. Ketika seorang manusia mengumpulkan data tentang dirinya, maka sebenarnya dia sedang mempelajari apa yang terjadi di masa lampau. 

Percaya atau tidak, manusia sesungguhnya bergerak atau bertindak karena identitasnya. Seorang polisi tidak akan bertindak sebagai polisi bila ia tidak tahu dirinya adalah seorang polisi. Seorang polisi yang sedang mabuk berat, pasti tidak akan sempat mengingat kalau dirinya adalah penegak hukum, maka wajar kalau ia bisa bertindak seperti penjahat pada saat seperti itu.    
Inilah yang kemudian disebut sebagai “kesadaran.”

Pentingnya kesadaran dan kesadaran sejarah
Kesadaran merupakan suatu yang dimiliki oleh manusia dan tidak ada pada ciptaan  Tuhan yang lain. Kesadaran yang dimiliki oleh manusia merupakan suatu hal yang unik dimana ia dapat menempatkan diri manusia sesuai dengan yang diyakininya.

Kesadaran profetik merupakan suatu kesadaran yang dimiliki oleh agama dalam rangka melakukan transformasi sosial pada satu tujuan tertentu berdasarkan etika tertentu pula. Sebagaimana kesadaran dalam Islam merupakan suatu bentuk kesadaran yang dimiliki manusia dari Tuhan untuk menentukan dan merubah sejarah, bukan manusia yang ditentukan oleh sejarah. Islam memandang kesadaran manusia merupakan kesadaran immaterial menentukan material, dengan  maksud bahwa iman sebagai basis kesadaran menentukan lingkungan sekitar manusia. Kesadaran dalam Islam merupakan bersifat independen tidak dipengaruhi oleh struktur, basis sosial dan kondisi material. Yang menentukan kesadaran bukanlah individu, seperti dalam teori kesadaran kritis. Teori kesadaran Islam menjadikan individu bersikap aktif dalam menentukan jalannya sejarah. Kesadaran kritis yang ditentukan oleh individu dapat terjatuh dalam pahan eksistensialisme dan iondividualism. Sedangkan kesadaran profetis, bahwa yang menentukan bentuk kesadaran adalah Tuhan, dan ketentuan kesadaran ini untuk menebarkan asma atau nama Tuhan didunia sehingga  rahmat diperoleh manusia, dan bentuk kesadaran ini merupakan kesadaran Ilahiah untuk merubah sejarah. Kesadaran yang dimiliki oleh Islam merupakan kesadaran Ilahiah dan menjadi ruh untuk melakukan transformasi.

Kesadaran merupakan konsep yang dimiliki oleh manusia dalam menghadapi realitas sosial yang terjadi di sekitarya. Kesadaran yang dilakukan oleh manusia merupakan gerak yang berkelanjutan dan kontinyu dalam rangka merespon realitas sosial.  Kesadaran merupakan sesuatu yang membedakan manusia dengan mahluk yang lain, dikarenakan  dengan kesadaran yang dimiliki gerak yang dilakukan tanpa paksaan, tetapi  berdasarkan kemaunan dan keinginannya. Menurut Marxisme kesadaran ditentukan oleh lingkungan sekitar manusia. Jadi dalam pandangan ini  lingkungan lama menentukan lingkungan yang akan diwujudkan. Manusia bergerak dan melakukan apa saja dikarenakan struktur yang berada di luar diri manusia, dan berdasarkan tekanan dari luar, bukan dari dasar pikiran manusia. Bentuk kesadaran yang dimiliki oleh Marxisme ini menjadikan jalannya sejarah yang terjadi merupakan proses materialism. Marx juga mengakui dalam tesisnya bahwa sejarah bergerak dikarenakan kebutuhan materi yang ada dalam diri manusia, sehingga lebih dikenal dengan materialisme dialektik atau materialisme historis.

Hal  ini sangat lain halnya bila dibandingkan dengan konsep kesadaran yang dimiliki oleh  Islam. Kesadaran dalam Islam merupkan ketentuan dari Tuhan. Dari sini, bahwa kesadaran menentukan lingkungan, maka ia bersifat  independen bukan didasarkan pada individu mapun lingkungan yang mengitarinya. Jika kesadaran ditentukan oleh individu maka yang terjadi proses individualism, eksistensialism, liberalism, dan capitalism. Kesadaran yang diinginkan  oleh Islam merupakan pemberian dari Tuhan yakni iman yang dapat membuat atau menentukan struktur sosial, budaya dan kondisi material yang terjadi  dalam masyarakat. Kesadaran yang ditentukan Tuhan ini menjadikan bentuk  kesadaran yang timbul merupakan kesadaran Ilahiah dan bagaimana nilai-nilai Ilahiah ini  agar tertanam dalam bumi agar tercipta khoirul ummah. Kesadaran Ilahiah ini yang membuat konsep kesadaran bagai ikatan, baik secara individu atapun kolektif. Secara otomatis konsep ini menghilangkan konsep kesadaran yang didasarkan pada individu dan juga bentuk kesadaran yang bercorak sekulerisme. Kesadaran ini bercorak intergralistik, dikarenakan manusia sebagai penerima bentuk kesadaran dari Tuhan dan dalam segala aktivitasnya akan diserahkan kembali kepada Tuhan. 

Kesadaran Ilahiah merupakan konsep ikatan menghadapi realitas sosial yang terjadi, dengan kesadaran ini, maka cara pandang ikatan berangkat dari teks ke konteks, bukannya dari konteks ke teks.

Kesadaran sejarah merupakan tindak lanjut dari konsep kesadaran Ilahiah, yang dalam  praksisnya melakukan aktivisme sejarah. Kesadaran sejarah ini, dapat juga dilihat dari ajaran agama Islam bahwa Islam merupakan agama amal. Oleh karena itu, dalam ajarannya Islam melarang konsep tentang selibat (tidak kawin),  uzlah (mengasingkan diri) dan kerahiban. Bentuk-bentuk ajaran tersebut tidak diperkenankan dalam Islam dikarenakan tidak sesuai dengan fitrah yang telah dimiliki oleh manusia, untuk menentukan jalannya sejarah dan membuat sejarah yang lebih humanis. Kesadaran profetis dan diaktualisasikan dalam bentuk kesadaran sejarah ini merupakan upaya dalam mewujudkan khoirul ummah. Upaya perwujudan khoirul ummah yang telah diidealkan oleh ikatan dengan melakukan aktivisme sejarah dan kerja keras ikatan baik secara kolektif ataupun secara individual. Bentuk kesadaran sejarahpun dalam Islam dapat dilihat misalkan dalam doanya yang menginginkan kebahagian dalam dunia dan juga akherat. Kebahagian dalam Islam ini dalam dua dimensi dalam dunia dan dalam ukhrawi.  Kebahagiaan dalam dunia diwujudkan dengan kesadaran sejarah upaya mewujudkan khoirul ummah sebagai jalan mendekarkan manusia dengan Pencipta. Kesadaran sejarah  yang dimiliki oleh ikatan menjadikan suatu bentuk yang aktif ikatan, dan  segala yang dilakukan oleh ikatan merupakan sarana ibadah kepada Tuhan dengan mewujudkan impian yang telah dimiliki oleh ikatan. Kesadaran ini menjadikan ikatan  dan individu melakukan transformasi dan perubahan agar realitas menuju atau  mengarah kepada yang diimpikan dalam rangka ibadah kepada Tuhan.




Daftar Pustaka

  • Kuntowijoyo. Ilmu Sosial Profetik.-:-,-
  • Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah.-: Bentang Pustaka,-
  • Wikipedia: Ensiklopedi Berbasis Internet
  • Sani.Pentingnya Kesadaran: Dari Kesadaran Kritis ke Kesadaran Profetis
  • https://serbasejarah.files.wordpress.com/


DAFTAR NAMA NEGARA DI DUNIA


ASIA 

ASIA TENGGARA
NAMA NEGARANAMA IBUKOTA
Brunei darussalam
Filipina
Indonesia
Kamboja
Laos
Malaysia
Thailand
Myanmar
Singapura
Vietnam
Bandar sribegawan
Manila
Jakarta
Phnom penh
Viantiane
Kuala lumpur
Bangkok
Rangoon
Singapura
Hanoi

ASIA SELATAN
NAMA NEGARANAMA IBUKOTA

Bangladesh
Bhutan
India
Maladewa
Nepal
Pakistan
Srilanka

Dakka
Thimbu
New dehli
Male
Kathmandu
Islamabad
Kolombo

ASIA TIMUR
NAMA NEGARANAMA IBUKOTA

Jepang
Korea selatan
Korea utara
Mongolia
RR China
Taiwan

Tokyo
Seoul
Pyong yang
Ulanbator
Beijing
Taipeh

ASIA BARAT
NAMA NEGARANAMA IBUKOTA

Afganistan
Bahrain
Irak
Iran
Israel
Kuwait
Libanon
Oman
Qatar
Saudi arabia
Siprus
Suriah
Turki
Uni Emirat arab
Yaman selatan
Yaman Utara
Yordania

Kabul
Almanama
Baghdad
Teheran
Telaviv
Alkuwait
Beirut
Muskat
Doha
Riyadh
Nikosia
Damaskus
Ankara
Abu dabhi
Aden
San’a
Amman

AFRIKA 

AFRIKA
NAMA NEGARANAMA IBUKOTA

Afrika selatan
Afria tengah
Aljazair
Angola
Benin
Bostwana
Burkina faso
Burundi
Chad
Eritrea
Ethiophia
Gabon
Gambia
Ghana
Guienia
Guienia bis
Guienia katis
Jibouti
Kamerun
Kenya
Kongo
Lesotho
Liberia
Libia
Malagasi
Malawi
Mali
Maroko
Mauiritania
Mauiritius
Mesir
Mozambik
Namibia
Niger
Nigeria
Pantai gading
Rwanda
Sahara
Senegal
Siera leone
Somalia
Sudan
Swazi
Tanzania
Togo
Tunisia
Uganda
Zaire
Zambia
Zimbabwe

Pretoria
Bangui
Algier
Luanda
Porto novo
Gabourone
Quagadoudou
Bujumbara
Ndjamane
Asmara
Addis ababa
Libreville
Banyul
Akra
Konakri
Bissau
Malabo
Jibouti
Yaonde
Nairobi
Brazzaville
Maseru
Monrovia
Tripoli
Jananarive
Lilongwe
Bamako
Rabat
Nouackohot
Port luis
Kairo
Maputo
Windhoek
Niamey
Lagos
Abijan
Kigali
El alun
Dakar
Free town
Mogadishiu
Khartoum
Mbabane
Darus salam
Lome
Tunis
Kampala
Kinshasa
Lusaka
Harare

EROPA 

EROPA
NAMA NEGARANAMA IBUKOTA
Albania
Andora
Austria
Azerbaizan
Belanda
Belgia
Belorusia
Bosnia herzegovina
Bulgaria/Sofia
Ceko
Croatia
Denmark
Estonia
Finlandia
Georgia
Hongaria
Inggris
Irlandia
Islandia
Italia
Jerman
Karzakhstan
Kirgiz
Latvia
Lithuania
Luxemberg
Macedonia
Malta
Monaco
Moldovia
Norwegia
Polandia
Portugal
Prancis
Rumania
Rusia
Serbia
Slovenia
Slovakia
Spanyol
Swedia
Swiss
Tadzhikistan
Turkemenistan
Ukraina
Uzbekistan
Vatikan
Yunani
Tirana
Andora
Wina
Baku
Amsterdam
Brussel
Minks
Sarajevo
Sofia
Praha
Zagrib
Kopenhagen
Tallinu
Helsinki
Grozny
Budapest
London
Dublin
Reykyavik
Roma
Berlin
Alma ata
Frunze
Riga
Vina
Luxemburg
Skopje
La va letta
Monaco
Khisinev
Oslo
Warsawa
Lisabon
Paris
Bukarest
Moskow
Beograd
Ljubijana
Bratislava
Madrid
Stockolm
Bern
Dusanbhe
Ashakabad
Kiev
Tashkent
Vatikan
Athena

AUSTRALIA 

AUSTRALIA & OCEANIA
NAMA NEGARANAMA IBUKOTA
Australia
Belau
Federasi micronesia
Fiji
Kalidonia baru
Kiribati
Selandia baru
Papua nugini
Salomon
Tahiti
Tonga
Tuwalu
Vanuattu
Canberra
Koror
Ponape
Suva
Nomea
Bairiki
Wellington
Port moresby
Honiara
Pappete
Nukualofa
Funafuti
Port villa

AMERIKA 

AMERIKA UTARA
NAMA NEGARANAMA IBUKOTA
U S A
Kanada
Mexico
Washington
Ottawa
Mexico city

AMERIKA TENGAH
NAMA NEGARANAMA IBUKOTA
Antiqua
Barbados
Belize
Costa rica
Dominika
Elsavador
Grenada
Guadeloupe
Guatemala
Haiti
Honduras
Kuba
Martinique
Nikaragua
Panama
Poeftorico
Trinidad&Tobago
Jamaika
St.johns
Bridgetown
Belmopan
San yose
Santo
Domingo
San salvador
St.george’s
Guatemala
Portau prince
Teguocipalgapa
Havana
Fort de france
Managua
Panama
San juan
Portof span
Kingstone

AMERIKA SELATAN
NAMA NEGARANAMA IBUKOTA
Argentina
Bolivia
Brasil
Chili
Equador
Guyana
Guyana (PERN)
Kolumbia
Paraguay
Peru
Suriname
Uruguay
Venezuela
Bueonos aires
La paz
Brasilia
Santaiago
Quito
George town
Kayenne
Bogota
Auncion
Lima
Paranaribo
Montevideo
Caracas

Wednesday, April 29, 2015

FILSAFAT ILMU

Ditinjau dari segi historis, hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang sangat menyolok. Pada permulaan sejarah filsafat di Yunani, “philosophia” meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis. Tetapi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dikemudian hari, ternyata juga kita lihat adanya kecenderungan yang lain. Filsafat Yunani Kuno yang tadinya merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi terpecah-pecah (Bertens, 1987,  Nuchelmans, 1982).

Lebih lanjut Nuchelmans (1982), mengemukakan bahwa dengan munculnya ilmu pengetahuan alam pada abad ke 17, maka mulailah terjadi perpisahan antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian dapatlah dikemukakan bahwa sebelum abad ke 17 tersebut ilmu pengetahuan adalah identik dengan filsafat. Pendapat tersebut sejalan dengan pemikiran Van Peursen (1985), yang mengemukakan bahwa dahulu ilmu merupakan bagian dari filsafat, sehingga definisi tentang ilmu bergantung pada sistem filsafat yang dianut.

Dalam perkembangan lebih lanjut menurut Koento Wibisono (1999), filsafat itu sendiri telah mengantarkan adanya suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana “pohon ilmu pengetahuan” telah tumbuh mekar-bercabang secara subur. Masing-masing cabang melepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya sendiri-sendiri.

Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru bahkan kearah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi seperti spesialisasi-spesialisasi. Oleh karena itu tepatlah apa yang dikemukakan oleh Van Peursen (1985), bahwa ilmu pengetahuan dapat dilihat sebagai suatu sistem yang jalin-menjalin dan taat asas (konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknya dapat ditentukan.

Terlepas dari berbagai macam pengelompokkan atau pembagian dalam ilmu pengetahuan, sejak F.Bacon  (1561-1626) mengembangkan semboyannya “Knowledge Is Power”, kita dapat mensinyalir bahwa peranan ilmu pengetahuan terhadap kehidupan manusia, baik individual maupun sosial menjadi sangat menentukan. Karena itu implikasi yang timbul menurut Koento Wibisono (1984), adalah bahwa ilmu yang satu sangat erat hubungannya dengan cabang ilmu yang lain serta semakin kaburnya garis batas antara ilmu dasar-murni atau teoritis dengan ilmu terapan atau praktis.

Untuk mengatasi gap antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lainnya, dibutuhkan suatu bidang ilmu yang dapat menjembatani serta mewadahi perbedaan yang muncul. Oleh karena itu, maka bidang filsafatlah yang mampu mengatasi hal tersebut. Hal ini senada dengan pendapat Immanuel kant (dalam kunto Wibisono dkk., 1997) yang menyatakan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat. Oleh sebab itu Francis bacon (dalam The Liang Gie, 1999) menyebut filsafat sebagai ibu agung dari ilmu-ilmu (the great mother of the sciences).

Lebih lanjut Koento Wibisono dkk. (1997) menyatakan, karena  pengetahuan ilmiah atau ilmu merupakan “a higher level of knowledge”, maka lahirlah filsafat ilmu  sebagai penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat menempatkan objek sasarannya: Ilmu (Pengetahuan). Bidang garapan filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu yaitu: ontologi, epistemologi dan aksiologi. Hal ini didukung oleh Israel Scheffler (dalam The Liang Gie, 1999), yang berpendapat bahwa  filsafat ilmu mencari pengetahuan umum tentang ilmu atau tentang dunia sebagaimana ditunjukkan oleh ilmu.

Interaksi antara ilmu dan filsafat mengandung arti bahwa filsafat dewasa ini tidak dapat berkembang dengan baik jika terpisah dari ilmu. Ilmu tidak dapat tumbuh dengan baik tanpa kritik dari filsafat. Dengan mengutip ungkapan dari Michael Whiteman (dalam Koento Wibisono dkk.1997), bahwa ilmu kealaman persoalannya dianggap bersifat ilmiah karena terlibat dengan persoalan-persoalan filsafati sehingga memisahkan satu dari yang lain tidak mungkin. Sebaliknya, banyak persoalan filsafati sekarang sangat memerlukan landasan pengetahuan ilmiah supaya argumentasinya tidak salah.

 Pengertian Filsafat
Perkataan Inggris philosophy yang berarti filsafat berasal dari kata Yunani “philosophia” yang lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Akar katanya ialah philos (philia, cinta) dan sophia (kearifan). Menurut pengertiannya yang semula dari zaman Yunani Kuno itu filsafat berarti cinta kearifan. Namun, cakupan pengertian sophia yang semula itu ternyata luas sekali. Dahulu sophia tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi pula kebenaran pertama, pengetahuan luas, kebajikan intelektual, pertimbangan sehat sampai kepandaian pengrajin dan bahkan kecerdikkan dalam memutuskan soal-soal praktis (The Liang Gie, 1999).

Banyak pengertian-pengertian atau definisi-definisi tentang filsafat yang telah dikemukakan oleh para filsuf. Menurut Merriam-Webster (dalam Soeparmo, 1984), secara harafiah filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Maksud sebenarnya  adalah pengetahuan tentang kenyataan-kenyataan yang paling umum dan kaidah-kaidah realitas serta hakekat manusia dalam segala aspek perilakunya seperti: logika, etika, estetika dan teori pengetahuan.

Kalau menurut tradisi filsafati dari zaman Yunani Kuno, orang yang pertama memakai istilah philosophia dan philosophos ialah Pytagoras (592-497 S.M.), yakni seorang ahli matematika yang kini lebih terkenal dengan dalilnya dalam geometri yang menetapkan a2 + b2 = c2. Pytagoras menganggap dirinya “philosophos” (pencinta kearifan). Baginya kearifan yang sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan. Selanjutnya, orang yang oleh para penulis sejarah filsafat diakui sebagai Bapak Filsafat ialah Thales (640-546 S.M.). Ia merupakan seorang Filsuf yang mendirikan aliran filsafat alam semesta atau kosmos dalam perkataan Yunani. Menurut aliran filsafat kosmos, filsafat adalah suatu penelaahan terhadap alam semesta untuk mengetahui asal mulanya, unsur-unsurnya dan kaidah-kaidahnya (The Liang Gie, 1999).

Menurut sejarah kelahiran istilahnya, filsafat terwujud sebagai sikap yang ditauladankan oleh Socrates. Yaitu sikap seorang yang cinta kebijaksanaan yang mendorong pikiran seseorang untuk terus menerus maju dan mencari kepuasan pikiran, tidak merasa dirinya ahli, tidak menyerah kepada kemalasan, terus menerus mengembangkan penalarannya untuk mendapatkan kebenaran (Soeparmo, 1984).

Timbulnya filsafat karena manusia merasa kagum dan merasa heran. Pada tahap awalnya kekaguman atau keheranan itu terarah pada gejala-gejala alam. Dalam perkembangan lebih lanjut, karena persoalan manusia makin kompleks, maka tidak semuanya dapat dijawab oleh filsafat secara memuaskan. Jawaban yang diperoleh menurut Koento Wibisono dkk. (1997), dengan melakukan refleksi yaitu berpikir tentang pikirannya sendiri. Dengan demikian, tidak semua persoalan itu harus persoalan filsafat.

Filsafat Ilmu
Pengertian-pengertian tentang filsafat ilmu, telah banyak dijumpai dalam berbagai buku maupun karangan ilmiah lainnya. Menurut The Liang Gie (1999), filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-balik  dan saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu.

Sehubungan dengan pendapat tersebut serta sebagaimana pula yang telah digambarkan pada bagian pendahuluan dari tulisan ini bahwa  filsafat ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru. Hal ini senada dengan ungkapan dari Archie J.Bahm (1980)  bahwa ilmu pengetahuan (sebagai teori) adalah sesuatu yang selalu berubah.

Dalam perkembangannya filsafat ilmu mengarahkan pandangannya pada strategi pengembangan ilmu yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan manusia (Koento Wibisono dkk., 1997).

Oleh karena itu, diperlukan perenungan kembali secara mendasar tentang hakekat dari ilmu pengetahuan itu bahkan hingga implikasinya ke bidang-bidang kajian lain seperti ilmu-ilmu kealaman. Dengan demikian setiap perenungan yang mendasar, mau tidak mau mengantarkan kita untuk masuk ke dalam kawasan filsafat. Menurut Koento Wibisono (1984), filsafat dari sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berusaha untuk memahami hakekat dari sesuatu “ada” yang dijadikan objek sasarannya, sehingga filsafat ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang filsafat dengan sendirinya merupakan ilmu yang berusaha untuk memahami apakah hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.
Lebih lanjut Koento Wibisono (1984), mengemukakan bahwa hakekat ilmu menyangkut masalah keyakinan ontologik, yaitu suatu keyakinan yang harus dipilih oleh sang ilmuwan dalam menjawab pertanyaan tentang apakah “ada” (being, sein, het zijn) itu. Inilah awal-mula sehingga seseorang akan memilih pandangan yang idealistis-spiritualistis, materialistis, agnostisistis dan lain sebagainya, yang implikasinya akan sangat menentukan dalam pemilihan epistemologi, yaitu cara-cara, paradigma yang akan diambil dalam upaya menuju sasaran yang hendak dijangkaunya, serta pemilihan aksiologi yaitu nilai-nilai, ukuran-ukuran mana yang akan dipergunakan dalam seseorang mengembangkan ilmu.

Dengan memahami hakekat ilmu itu, menurut Poespoprodjo (dalam Koento Wibisono, 1984), dapatlah dipahami bahwa perspektif-perspektif ilmu, kemungkinan-kemungkinan pengembangannya, keterjalinannya antar ilmu, simplifikasi dan artifisialitas ilmu dan lain sebagainya, yang vital bagi penggarapan ilmu itu sendiri. Lebih dari itu, dikatakan bahwa dengan filsafat ilmu, kita akan didorong untuk memahami kekuatan serta keterbatasan metodenya, prasuposisi ilmunya, logika validasinya, struktur pemikiran ilmiah dalam konteks dengan realitas in conreto sedemikian rupa sehingga seorang ilmuwan dapat terhindar dari kecongkakan serta kerabunan intelektualnya.

Filsafat Ilmu sebagai Landasan Pengembangan Pengetahuan Alam
Frank (dalam Soeparmo, 1984), dengan mengambil sebuah rantai sebagai perbandingan, menjelaskan bahwa fungsi filsafat ilmu pengetahuan alam adalah mengembangkan pengertian tentang strategi  dan taktik ilmu pengetahuan alam. Rantai tersebut sebelum tahun 1600, menghubungkan filsafat disatu pangkal dan ilmu pengetahuan alam di ujung lain secara berkesinambungan. Sesudah tahun 1600, rantai itu putus. Ilmu pengetahuan alam memisahkan diri dari filsafat. Ilmu pengetahuan alam menempuh jalan praktis dalam menurunkan hukum-hukumnya. Menurut Frank, fungsi filsafat ilmu pengetahuan alam adalah menjembatani putusnya rantai tersebut dan menunjukkan bagaimana seseorang beranjak dari pandangan common sense (pra-pengetahuan) ke prinsip-prinsip umum ilmu pengetahuan alam. Filsafat ilmu pengetahuan alam bertanggung jawab untuk membentuk kesatuan pandangan dunia yang di dalamnya ilmu pengetahuan alam, filsafat dan kemanusian mempunyai hubungan erat.

Sastrapratedja (1997), mengemukakan bahwa ilmu-ilmu alam secara fundamental dan struktural diarahkan pada produksi pengetahuan teknis dan yang dapat digunakan. Ilmu pengetahuan alam merupakan bentuk refleksif (relefxion form) dari proses belajar yang ada dalam struktur tindakan instrumentasi, yaitu tindakan yang ditujukan untuk mengendalikan kondisi eksternal manusia. Ilmu pengetahuan alam terkait dengan kepentingan dalam meramal (memprediksi) dan mengendalikan proses alam. Positivisme menyamakan rasionalitas dengan rasionalitas teknis dan ilmu pengetahuan dengan ilmu pengetahuan alam.

Menurut Van Melsen (1985), ciri khas pertama yang menandai ilmu alam ialah bahwa ilmu itu melukiskan kenyataan menurut aspek-aspek yang mengizinkan registrasi inderawi yang langsung. Hal kedua yang penting mengenai registrasi ini adalah bahwa dalam keadaan ilmu alam sekarang ini registrasi itu tidak menyangkut pengamatan terhadap benda-benda dan gejala-gejala alamiah, sebagaimana spontan disajikan kepada kita. Yang diregistrasi dalam eksperimen adalah cara benda-benda bereaksi atas “campur tangan” eksperimental kita. Eksperimentasi yang aktif itu memungkinkan suatu analisis jauh lebih teliti terhadap banyak faktor yang dalam pengamatan konkrit selalu terdapat bersama-sama. Tanpa pengamatan eksperimental kita tidak akan tahu menahu tentang elektron-elektron dan bagian-bagian elementer lainnya.

Ilmu pengetahuan alam mulai berdiri sendiri sejak abad ke 17. Kemudian pada tahun 1853, Auguste Comte mengadakan penggolongan ilmu pengetahuan. Pada dasarnya penggolongan ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh Auguste Comte (dalam Koento Wibisono, 1996), sejalan dengan sejarah ilmu pengetahuan itu sendiri, yang menunjukkan bahwa gejala-gejala dalam ilmu pengetahuan yang paling umum akan tampil terlebih dahulu. Dengan mempelajari gejala-gejala yang paling sederhana dan paling umum secara lebih tenang dan rasional, kita akan memperoleh landasan baru bagi ilmu-ilmu pengetahuan yang saling berkaitan untuk dapat berkembang secara lebih cepat. Dalam penggolongan ilmu pengetahuan tersebut, dimulai dari Matematika, Astronomi, Fisika, Ilmu Kimia, Biologi dan Sosilogi. Ilmu Kimia diurutkan dalam urutan keempat.

Penggolongan tersebut didasarkan pada urutan tata jenjang, asas ketergantungan dan ukuran kesederhanaan. Dalam urutan itu, setiap ilmu yang terdahulu adalah lebih tua sejarahnya, secara logis lebih sederhana dan lebih luas penerapannya daripada setiap ilmu yang dibelakangnya (The Liang Gie, 1999).

Pada pengelompokkan tersebut, meskipun tidak dijelaskan induk dari setiap ilmu tetapi dalam kenyataannya sekarang bahwa fisika, kimia dan biologi adalah bagian dari kelompok ilmu pengetahuan alam.

Ilmu kimia adalah suatu ilmu yang mempelajari perubahan materi serta energi yang menyertai perubahan materi. Menurut ensiklopedi ilmu (dalam The Liang Gie, 1999), ilmu kimia dapat digolongkan ke dalam beberapa sub-sub ilmu yakni: kimia an organik, kimia organik, kimia analitis, kimia fisik serta kimia nuklir.
Selanjutnya Auguste Comte (dalam Koento Wibisono, 1996) memberi efinisi tentang ilmu kimia sebagai “… that it relates to the law of the phenomena of composition and decomposition, which result from the molecular and specific mutual action of different subtances, natural or artificial” ( arti harafiahnya kira-kira adalah ilmu yang berhubungan dengan hukum gejala komposisi dan dekomposisi dari zat-zat yang terjadi secara alami maupun sintetik). Untuk itu pendekatan yang dipergunakan dalam ilmu kimia tidak saja melalui pengamatan (observasi) dan percobaan (eksperimen), melainkan juga dengan perbandingan (komparasi).

Jika melihat dari sejarah perkembangan ilmu pengetahuan alam, pada mulanya orang tetap mempertahankan penggunaan nama/istilah filsafat alam bagi ilmu pengetahuan alam. Hal ini dapat dilihat dari judul karya utama dari pelopor ahli kimia yaitu John Dalton: New Princiles of Chemical Philosophy.

Berdasarkan hal tersebut maka sangatlah beralasan bahwa ilmu pengetahuan alam tidak terlepas dari hubungan dengan ilmu induknya yaitu filsafat. Untuk itu diharapkan uraian ini dapat memberikan dasar bagi para ilmuan IPA dalam merenungkan kembali sejarah perkembangan ilmu alam dan dalam pengembangan ilmu IPA selanjutnya.

Dari berbagai sumber :
Bahm, Archie, J., 1980., “What Is Science”, Reprinted from my Axiology; The Science Of Values 
Bertens, K., 1987., “Panorama Filsafat Modern”, Gramedia Jakarta 
Koento Wibisono S. dkk., 1997., “Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan 
“Arti Perkembangan Menurut Filsafat Positivisme Auguste Comte Gadjah Mada University Yogyakarta 
 “Ilmu Pengetahuan Sebuah Sketsa Umum Mengenai Kelahiran Dan Perkembangannya Sebagai Pengantar Untuk Memahami Filsafat Ilmu UGM Yogyakarta, 
Nuchelmans, G., 1982., “Berfikir Secara Kefilsafatan: Bab X, Filsafat Ilmu Pengetahuan Alam, Dialihbahasakan Oleh Soejono Soemargono”, UGM Yogyakarta 
Soeparmo, A.H., 1984., “Struktur Keilmuwan Dan Teori Ilmu Pengetahuan Alam”, Penerbit Airlangga University 
The Liang Gie., 1999., Pengantar Filsafat Ilmu Yogyakarta. 

Saturday, April 18, 2015

KONSEP PENDIDIKAN MENURUT AL GHAZALI

Riwayat Hidup Al-Ghazali

Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Ath-Thusi An-Naysaburi. Ia dilahirkan di Thus, sebuah Kota di Khurasan Persia pada tahun 450 H. atau 1058 M. Ayahnya seorang pemintal wool. Al-Ghazali mempunyai seorang saudara, ketika akan meninggal ayahnya berpesan kepada seorang sahabat setia agar kedua putranya diasuh dan disempurnakan pendidikannya. Sahabat tersebut segera melaksanakan wasiat ayah Al-Ghazali dengan mendidik dan menyekolahkan keduanya. Setelah harta pusaka peninggalan ayah mereka habis, keduanya dinasehati agar meneruskan mencari ilmu semampunya. Imam Al-Ghazali sejak kecil dikenal sebagai seorang anak pencinta ilmu pengetahuan dan pencari kebenaran yang hakiki, sekalipun diterpa duka cita, dilanda aneka rupa nestapa dan sengsara. Di masa kanak-kanak, Imam Al-Ghazali belajar kepada Ahmad bin Muhammad Ar-Raziqani di Thus kemudian belajar kepada Abi Nasr Al-Ismaili di Jurjani dan akhirnya ia kembali ke Thus.

Setelah itu Imam Ghazali pindah ke Naysaburi untuk belajar kepada seorang ahli agama kenamaan di masanya, yaitu Al-Juwaini yang bergelar Imam Haramain; darinya Al-Ghazali belajar ilmu kalam, ilmu ushul, dan ilmu agama lainnya. Imam Al-Ghazali memang orang cerdas dan sanggup mendebat segala sesuatu yang tidak sesuai dengan penalaran yang jernih, sehingga Imam Juwaini memberi predikat sebagai orang yang memiliki ilmu sangat luas bagaikan “laut dalam nan menenggelamkan”.

Keikutsertaan Al-Ghazali dalam suatu diskusi bersama sekelompok ulama dan intelektual di hadapan Nidzam Al-Mulk membawa keuntungan besar baginya. Nidzam Al-Mulk berjanji akan mengangkat Al-Ghazali sebagai guru besar di Universitas yang didirikannya di Baghdad pada tahun 484 atau 1091 M. Setelah empat tahun di universitas tersebut, ia memutuskan untuk berhenti mengajar dan meninggalkan Baghdad. Setelah itu ia pergi ke Syam, hidup dalam Jami Umawi dengan kehidupan total dipenuhi ibadah, dilanjutkan ke padang pasir untuk meninggalkan kemewahan hidup dan mendalami agama.

Dari sana, ia kembali ke Baghdad untuk kembali mengajar. Selain mengajar, ia juga rajin menulis buku atau kitab. Kitab pertama yang dikarangnya adalah ”Al-Munqidz min al-Dhalal”. Setelah sepuluh tahun di Baghdad, ia pergi ke Naysaburi dan sibuk mengajar di sana. Dalam waktu yang tidak lama setelah itu beliau meninggal di Thus kota kelahiranya pada hari Senin tanggal 14 Jumadil Akhir 505 H. atau 1111 M.

Karya-karya Al-Ghazali

            Al-Ghazali banyak mengarang buku dalam berbagai disiplin ilmu. Karangan-karangannya meliputi Fikih, Ushul Fikih, Ilmu Kalam, Teologi Kaum Salaf, bantahan terhadap kaum Batiniah, Ilmu Debat, Filsafat dan khususnya yang menjelaskan tentang maksud filsafat serta bantahan terhadap kaum filosof, logika, tasawuf, akhlak dan psikologi.

        Kitab terbesar karya Al-Ghazali yaitu Ihya ‘Ulumuddin (Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama), karangannya ini beberapa tahun dipelajari secara seksama di antara Syam, Yerussalem, Hajaz, dan Thus. Karyanya berisi paduan yang indah antara fikih, tasawuf dan filsafat; bukan saja terkenal di kalangan kaum Muslimin tetapi juga di kalangan dunia Barat.

Karya-karya Al-Ghozali ada yang membaginya sebagai berikut:
a. Di Bidang filsafat
- Maqasid al-Falasifah
- Tafahut al-Falasifah
- Al-Ma’rif al-‘Aqliyah

b. Di Bidang Agama
- Ihya ‘Ulumuddin
- Al-Munqidz min al-Dhalal
- Minhaj al-Abidin

c. Di Bidang Akhlak Tasawuf
- Mizan al-Amal
- Kitab al-Arbain
- Mishkat al-anwar
- Al-Adab fi al-Din
- Ar-Risalah al-Laduniyah

d. Di Bidang Kenegaraan
- Mustazhiri
- Sirr al-Alamin
- Nasihat al-Muluk
- Suluk al-Sulthanah

Konsep Pendidikan Islam menurut Al-Ghazali

            Konsep pendidikan Al-Ghazali dapat diketahui dengan cara memahami pemikirannya berkenaan dengan berbagai aspek yang berkaitan dengan pendidikan, yaitu: tujuan, kurikulum, etika guru, dan etika murid, metode.

1. Tujuan Pendidikan menurut Al-Ghazali
            Seorang guru dapat merumuskan suatu tujuan kegiatan dengan baik, jika ia memahami benar filsafat yang mendasarinya. Rumusan selanjutnya akan menentukan aspek kurikulum, metode, dan lainnya. Dari hasil studi terhadap pemikiran Al-Ghazali dapat diketahui dengan jelas bahwa tujuan akhir yang ingin dicapai melalui pendidikan ada dua, pertama: tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah SWT; kedua, kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagiaan dunia dan akhirat.

        Karena itu, beliau bercita-cita mengajarkan manusia agar mereka sampai pada sasaran yang merupakan tujuan akhir dan maksud dari pendidikan. Tujuan itu tampak bernuansa religius dan moral, tanpa mengabaikan masalah duniawi. Akan tetapi, di samping bercorak agamis yang merupakan ciri spesifik pendidikan Islam dengan mengutamakan pada sisi keruhanian. Kecenderungan tersebut sejalan dengan filsafat Al-Ghazali yang bercorak tasawuf. Maka tidak salah bila sasaran pendidikan adalah kesempurnaan insani dunia dan akhirat. Manusia akan sampai pada tingkat ini hanya dengan menguasai sifat keutamaam melalui jalur ilmu. Keutamaan itu yang akan membuat bahagia di dunia dan mendekatkan kepada Allah SWT sehingga bahagia di akhirat kelak. Oleh karena itu, menguasai ilmu bagi beliau termasuk tujuan pendidikan, mengingat kandungan nilai serta kenikmatan yang diperoleh manusia darinya.

          Dari hasil studi pemikiran Al-Ghazali dapat diketahui dengan jelas bahwa tujuan akhir yang ingin dicapai melalui kegiatan pendidikan adalah: Pertama, tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah. dan kedua, kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagiaan di dunia dan akhirat. Karena itu, ia bercita-cita mengajarkan manusia agar mereka sampai pada sasaran-sasaran pendidikan yang merupakan tujuan akhir dan maksud dari tujuan itu. Sasaran pendidikan menurut Al-Ghazali adalah kesempurnaan insani di dunia dan akhirat. Manusia akan sampai kepada tingkat kesempurnaan hanya dengan menguasai sifat keutamaan jalur ilmu dan menguasai ilmu adalah bagian dari tujuan pendidikan.

2. Kurikulum Pendidikan menurut Al-Ghazali
          Kurikulum yang dimaksud adalah kurikulum dalam arti sempit, yaitu seperanngkat ilmu yang diberikan oleh pendidik kepada peserta didik. Pendapat Al-Ghazali terhadap kurikulum dapat dilihat dari pandangannya mengenai ilmu pengetahuan yang dibaginya dalam beberapa sudut pandang.
Al-Ghazali membagi ilmu pengetahuan menjadi tiga bagian, yaitu:
  • Ilmu tercela yaitu ilmu yang tidak ada manfaatnya baik di dunia maupun di akhirat, seperti ilmu nujum, sihir, dan ilmu perdukunan. Bila ilmu ini dipelajari akan membawa mudharat bagi yang memilikinya maupun orang lain dan akan meragukan keberadaan Allah SWT.
  • Ilmu terpuji misalnya ilmu tauhid dan ilmu agama. Bila ilmu ini dipelajari akan membawa orang kepada jiwa yang suci bersih dari kerendahan dan keburukan serta dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.
  • Ilmu terpuji pada taraf tertentu dan tidak boleh didalami karena dapat mengakibatkan goncangan iman, seperti ilmu filsafat.
  • Dari ketiga kelompok ilmu tersebut, Al-Ghazali membagi lagi menjadi dua bagian yang dilihat dari kepentingannya, yaitu:
  • Ilmu fardhu (wajib) yang harus diketahui oleh semua orang Muslim, yaitu ilmu agama.
  • Ilmu fardhu kifayah yang dipelajari oleh sebagian Muslim untuk memudahkan urusan duniawi, seperti : ilmu hitung, kedokteran, teknik, ilmu pertanian dan industri.

3. Pendidik menurut Al-Ghazali
          Dalam suatu proses pendidikan adanya pendidik merupakan suatu keharusan. Pendidik sangat berjasa dan berperan dalam suatu proses pendidikan dan pembelajaran sehingga Al-Ghazali merumuskan sifat-sifat yang harus dimiliki pendidik diantaranya guru harus cerdas, sempurna akal, dan baik akhlaknya; dengan kesempurnaan akal seorang guru dapat memiliki ilmu pengetahuan secara mendalam dan dengan akhlak yang baik dia dapat memberi contoh dan teladan bagi muridnya.

            Menurut Al-Ghazali, guru yang dapat diserahi tugas mengajar selain harus cerdas dan sempurna akalnya juga baik akhlak dan kuat fisiknya. Dengan kesempurnaan akal ia dapat memiliki berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam, dengan akhlaknya dapat menjadi contoh dan teladan bagi para muridnya, dan dengan kuat fisiknya guru dapat melaksanakan tugas mengajar, mendidik dan mengarahkan anak-anak muridnya.

Selain sifat-sifat umum di atas pendidik kendaknya juga memiliki sifat-sifat khusus dan tugas-tugas tertentu diantaranya:
  • Sifat kasih sayang.
  • Mengajar dengan ikhlas dan tidak mengharapkan upah dari muridnya.
  • Menggunakan bahasa yang halus ketika mengajar.
  • Mengarahkan murid pada sesuatu yang sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan siswa.
  • Menghargai pendapat dan kemampuan orang lain.
  • Mengetahui dan menghargai perbedaan potensi yang dimiliki murid.

4. Peserta Didik Menurut Al-Ghazali
          Dalam kaitannya dengan peserta didik, lebih lanjut Al-Ghazali menjelaskan bahwa mereka merupakan hamba Allah yang telah dibekali potensi atau fitrah untuk beriman kepada-Nya. Fitrah itu sengaja disiapkan oleh Allah sesuai dengan kejadian manusia, cocok dengan tabiat dasarnya yang memang cenderung kepada agama Islam.

      Ketika menjelaskan makna pendidikan kepada umat, Al-Ghazali membagi manusia menjadi tiga golongan yang sekaligus menunjukkan keharusan menggunakan metode dan pendekatan yang berbeda pula, yaitu:
  • Kaum awam, yaitu orang yang cara berfikirnya sederhana sekali. Dengan cara berfikir tersebut mereka tidak dapat mengembangkan hakikat-hakikat. Mereka mempunyai sifat lekas percaya dan menurut. Golongan ini harus dihadapi dengan sikap memberi nasehat dan petunjuk.
  • Kaum pilihan, yaitu orang yang akalnya tajam dengan cara berfikir yang mendalam. Kepada kaum pilihan tersebut harus dihadapi dengan sikap menjelaskan hikmat-hikmat.
  • Kaum pendebat (ahl al jidal), harus dihadapi dengan sikap mematahkan argumen-argumen mereka.
  • Menurut Al-Ghazali, ketika menuntut ilmu peserta didik memiliki tugas dan kewajiban, yaitu:
  • Mendahulukan kesucian jiwa.
  • Bersedia merantau untuk mencari ilmu pengetahuan.
  • Jangan menyombongkan ilmunya apalagi menentang guru.
  • Mengetahui kedudukan ilmu pengetahuan.

Dengan tugas dan kewajiban tersebut diharapkan seorang peserta didik mampu untuk menyerap ilmu pengetahuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

5. Metode Pendidikan Menurut Al-Ghazali
           Perhatian Al-Ghazali terhadap metode pengajaran lebih dikhususkan bagi pengajaran pendidikan agama untuk anak-anak. Untuk ini ia telah mencontohkan suatu metode keteladanan bagi mental anak-anak, pembinaan budi pekerti, dan penanaman sifat-sifat keutamaan pada diri mereka. Metode pengajaran menurut Al-Ghazali dapat dibagi menjadi dua bagian antara pendidikan agama dan pendidikan akhlak.

       Metode pendidikan agama menurut Al-Ghazali pada prinsipnya dimulai dengan hapalan dan pemahaman, kemudian dilanjutkan dengan keyakinan dan pembenaran, setelah itu penegakan dalil-dalil dan keterengan-keterangan yang menguatkan akidah.

            Al-Ghazali berpendapat bahwa pendidikan agama harus mulai diajarkan kepada anak-anak sedini mungkin. Sebab dalam tahun-tahun tersebut, seorang anak mempunyai persiapan menerima kepercayaan agama semata-mata dengan mengimankan saja dan tidak dituntut untuk mencari dalilnya. Sementara itu berkaitan dengan pendidikan akhlak, pengajaran harus mengarah kepada pembentukan akhlak yang mulia. Al-Ghazali mengatakan bahwa akhlak adalah suatu sikap yang mengakar di dalam jiwa yang akan melahirkan berbagai perbuatan baik dengan mudah dan gampang tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan.

            Selanjutnya, prinsip metodologi pendidikan modern selalu menunjukan aspek ganda. Suatu aspek menunjukan proses anak belajar dan aspek lainnya menunjukan aspek guru mengajar dan mendidik.
a). Asas-asas metode belajar
Ø  Memusatkan perhatian sepenuhnya.
Ø  Mengetahui tujuan ilmu pengetahuan yang akan dipelajari.
Ø  Mempelajari ilmu pengetahuan dari yang sederhana menuju yang komplek.
Ø  Mempelajari ilmu pengetahuan dengan sistematika pembahasan.

b). Asas-asas metode mengajar
Ø  Memperhatikan tingkat daya pikir anak.
Ø  Menerangkan pelajaran dengan cara yang sejelas-jelasnya.
Ø  Mengajarkan ilmu pengetahuan dari yang konkrit kepada yang abstrak.
Ø  Mengajarkan ilmu pengetahuan dengan berangsur-angsur.

c). Asas metode mendidik
Ø  Memberikan latihan-latihan.
Ø  Memberikan pengertian dan nasihat-a.
Ø  Melindungi anak dari pergaulan yang buruk.


Analisis Wacana Tentang Pemikiran al-Ghazali dalam Dunia Pendidikan

            Hal ini dapat dipahami dari satu segi tujuan diciptakannya manusia ialah manusia berpotensi untuk menjadi khalifah fi al-ardi. Potensi tersebut akan bermanfaat hanya jika digali melalui pendidikan karena itulah pendidikan merupakan usaha penggalian dan pengemangan fitrah manusia.

         Akan tetapi, munculnya filsafat pragmatisme yang mendapat inspirasi dari John Dewey, telah mengubah arah orientasi pendidikan. Filsafat pragmatisme telah mengabaikan konsep-konsep kebenaran dan menggantinya dengan kegunaan, dan pengaruh itu berjalan terus, akhirnya terwujudlah manusia-manusia yang menghancurkan konsep keagungan dan kemuliaan diri manusia itu sendiri. Penggantian konsep tersebut mengharuskan kita untuk mengubah sistem pendidikan yang ada sekarang, yang menyangkut dasar, tujuan, materi, kualifikasi, sistem evaluasi pendidikan dan lain-lain sehingga tercapai tujuan yang diharapkan.

            Tidak ada jalan lain untuk mengatasi dunia pendidikan semacam itu kecuali kembali kepada dan menerapkan sistem pendidikan yang memperhatikan fitrah manusia secara utuh, yakni sistem pendidikan Islam. Selanjutnya, terhadap tantangan-tantangn yang sedang dihadapi dunia pendidikan dewasa ini, ternyata konsep pendidikan al-Ghazali mampu menjawabnya. Bukti kongkritnya adalah Ihya’.

            Tampilnya pemikiran al-Ghazali tentang pendidikan dalam dunia pendidikan dewasa ini adalah karena aktualitas konsepnya, kejelasan orientasi sistemnya, dan secara umum karena pemikirannya yang sesuai dengan sosio kultural. Penampilannya dalam dunia pendidikan merupakan usaha pengubahan eksistensi muslim yang saat ini telah rusak hubungannya dengan sejarah masa lampaunya. Juga, sumbangsihnya terhadap pendidikan Islam untuk mempelajari warisan para leluhurnya yang telah dihalangi oleh barat.

***http://amadanwar.blogspot.com/

KONSEP PENDIDIKAN ISLAM

Pemikiran Ali Asraf Tentang Konsep Pendidikan Islam

Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam termasuk di dalamnya hewan, tumbuhan, dan manusia. Manusia sebagai makhluk dinamis membutuhkan sarana untuk mengembangkan diri secara dinamis dan berkelanjutan. Tempat yang mungkin untuk mengembangkan potensi dan dinamisasi diri adalah melalui pendidikan. Pendidikan merupakan institusi tempat menempa diri manusia. Karena pendidikan pada dasarnya adalah sarana untuk membimbing manusia sebagai manusia paripurna.

Islam sebagai agama rahmat memberi peluang kepada manusia untuk mengembangkan diri berdasarkan Al-Quran dan Hadis. Pengembangan diri berdasarkan wahyu merupakan cita-cita Al-Quran. Pengembangan diri tersebut merupakan bagian dari wahyu ketuhanan. Karena dalam al-Quran terdapat perintah untuk mengubah diri, perintah untuk banyak membaca, perintah untuk berfikir. Perintah tersebut mengindikasikan bahwa manusia diajarkan untuk mampu menempa diri dan mengembangkan bakat yang ada dalam dirinya. Tetapi perintah untuk berfikir, mengembangkan diri hanya tinggal konsep. Karena semua konsep tentang pengembangan diri, konsep dasar pendidikan Islam tidak digali dan dikembangkan untuk kemajuan pendidikan Islam.

Memang, kalau ditilik dalam lintasan sejarah, umat Islam mencoba untuk mengembangkan konsep-konsep pendidikan berdasarkan Al-Quran dan Hadis, tetapi hal tersebut hanya berlangsung sebatas pemerintahan atau tokoh pengusung konsep pendidikan tersebut. Setelah para tokoh dan pemerintahan telah meninggal atau pereintahan tersebut telah hancur, maka konsep pendidikannya juga ikut mengalami kemunduran.

Kemunduran tersebut tidak lepas dari kurang pedulian umat Islam terhadap konsep pendidikan Islam. Keadaan ini makin diperparah oleh para pakar pendidikan yang beranggapan bahwa pendidikan Barat lebih baik dan modern. Di sisi lain, pendidikan Islam dianggap tidak modern dan tidak mempunyai konsep yang jelas mengenai pendidikan. Konsep pendidikan Barat dipaksakan penerapannya di dunia Islam. Keadaan ini makin memperparah keadaan umat Islam yang telah terpola dengan konsep pendidikan Barat. Pola pendidikan Barat menjadi semacam pendangkalan keislaman umat Islam sendiri. Bahkan ada kecenderungan di kalangan masyarakat bahwa terjadinya korupsi, kolusi, nepotisme serta berbagai kemungkaran adalah akibat gagalnya pendidikan Islam dalam mendidik akhlak.

Ali Asraf sebagai tokoh pendidikan Islam mencoba menjawab berbagai permasalahan pendidikan Islam, dalam bukunya Horison Pendidikan Islam, Ali Asraf berusaha jujur membandingkan pendidikan modern Barat dengan pendidikan Islam. Ali Asraf beranggapan bahwa tidaklah mungkin seseorang akan merlihat dengan sempurna dan menemukan secara murni konsep pendidikan Islam tanpa membandingkan dua konsep pendidikan yaitu konsep pendidikan modern dalam hal ini diwakili oleh konsep pendidikan Barat. Perbandingan dilakukan oleh Ali Asraf bertujuan untuk memisahkan antara konsep pendidikan Barat dengan konsep pendidikan Islam yang sesungguhnya. Hal ini dilakukan karena selama ini kedua konsep pendidikan tersebut berbaur menjadi satu bagian, sehingga sulit menemukan mana konsep pendidikan Barat, dan mana konsep pendidikan Islam.

Dalam bukunya tersebut Ali Asraf mencoba menampilkan permasalahan yang berhubungan dengan pendidikan keagamaan, liberalitas, termasuk juga pendidikan tradisional dan modern. Beliau membahas tentang pentingnya pendidikan pelatihan dan pengembangan bagi para guru. Buku-buku teks hendaknya disusun sesuai cara-cara Islam, buku-buku untuk pendidikan Islam hendaknya di tulis dengan cara islami, dalam arti materi yang ada di dalamnya memuat berbagai nuansa keislaman, apapun jenis buku pelajarannya.

Menurut Ali Asraf pendidikan adalah sebuah aktivitas yang memiliki maksud tertentu, diarahkan untuk mengembangkan individu sepenuhnya. Lebih lanjut Ali Asraf menyatakan bahwa konsep pendidikan Islam tidak dapat dipahami tanpa terlebih dahulu memahmai penafsiran Islam tentang pengembangan individu sepenuhnya. Manusia adalah wakil Allah di muka bumi. Dalam Al-Quran Allah menjelaskan tentang nama-nama benda, mengajarkan norma-norma kepada mansuia pilihan yaitu para Nabi. Norma norma dan prinsip-prinsip serta metode-metod etentang pembelajaran dan pengetahuan telah Allah turunkan melalui wahyu. Firman Allah merupakan sumber hukum untuk dipatuhi manusia.

Pendidikan bertujuan menimbulkan pertumbuhan seimbang kepribadian manusia melalui latihan spiritual, intelek, rasional diri, perasaan dan kepekaan tubuh manusia. Oleh karena itu, pendidikan hendaknya menyediakan jalan untuk pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya, seperti spiritual, intelektual, imaginative, fisikal, ilmiah, linguistik, baik secara individual maupun secara kolektif dan memotivasi semua aspek untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan. Menurut Ali Asraf tujuan terakhir pendidikan muslim adalah perwujudan penyerahan mutlak kepada Allah, pada tingkat individual, masyarakat dan kemanusiaan.

Di antaranya konsep Islam tentang manusia dan metafisika pendidikan, adalah pertama, konsep Islam tentang manusia mempunyai keluasan dan jarak yang tidak dimiliki konsep tentang manusia manapun. Karena manusia dapat menjadi khalifatullah dengan menanamkan atau mewujudkan dalam dirinya sifat-sifat Tuhan. Karena itu, sifat-sifat tersebut mempunyai dimensi tidak terbatas, kemajuan moral, spiritual dan intelektual manusia juga tidak terbatas. kedua, karena pengetahuan adalah sumber kemauan dan pengembangan, Islam tidak meletakkan rintangan apa pun terhadap pencapaian pengetahuan. Ketiga, jangkauan penguasaan harus seutuhnya dengan memiliki keahlian intelektual karena isolasi seseorang tidak dapat mempertahankan pertumbuhan seimbang. Keempat aspek spiritual moral, intelektual, imajinatif, emosional dan fisikal dari kepribadian seseorang tetap diamati dalam membentuk inter-relasi di antara disiplin-disiplin itu. Pertumbuhan pikiran dan kemampuan seorang anak hendaknya dipertimbangkan untuk merencanakan berbagai subyek dan mata pelajaran dalam tahapan bertingkat. Sehingga dengan demikian inter-relasi dapat dipertahankan. Kelima, perkembangan pribadi dilihat dalam kontek hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam.

Ali Asraf berpendapat bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan yang melatih sensibilitas murid-murid sedemikian rupa, sehingga dalam perilaku mereka terhadap kehidupan, langkah-langkah dan keputusan dan pendekatan mereka terhadap semua ilmu pengetahuan mereka diatur oleh nilai-nilai etika Islam yang dirasakannya. Sikap tersebut terjadi karena berasal dari keyakinan ikhlas dari Tuhan.

Seorang pelajar yang mendapatkan pendidikan Islam tumbuh sebagai pribadi yang mencintai perdamaian, dapat hidup selaras, stabil, berbudi dan yakin sepenuhnya akan kemurahan Tuhan yang tak terbatas.

Konsep nilai-nilai Islam mempunyai obyektifitas dan universalitas, dan bukan kesadaran yang bersifat subyektif individu, kelompok maupun ras. Agama sebagai penyedia norma bagi manusia mempunyai kesempatan untuk pendidikan. Islam sebagai agama mempunyai sasaran yang jelas, seimbang dan menyeluruh. Manusia dalam konsep Islam dianggap sebagai wakil Tuhan yang potensial. Untuk menjadi manusia wakil Tuhan maka manusia hendaknya memiliki kebijaksanaan. Manusia diharapkan belajar melalui eksperimen dan menyusun rincian proses yang luas sebagaimana telah diberikan Allah kepada manusia. Dalam kontek hubungan antara Tuhan, manusia dan alam pendidikan hendaknya mengarahkan peserta didik untuk mengarahkan semua aktivitasnya kepada tiga hal tersebut. Menurut Konperensi Dunia pertama tentang pendidikan Islam yang diadakan di Mekah pada tahun 1977, dinyatakan bahwa:

“Pendidikan seharusnya bertujuan mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia secara total melalui latihan semangat, intelek, rasional diri, perasaan dan kepekaan tumbuh. Karena itu pendidikan, pendidikan seharusnya memberikan jalan bagi pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya secara spiritual, intelektual, imajinatif, fisikal, ilmiah, linguistic, baik secara individual maupun secara kolektif di samping memotivasi semua aspek tersebut kearah kebaikan dan kesempurnaan.”

Tetapi, pendidikan masih berkiblat kepada konsep pendidikan Barat. Pendidikan berkiblat pada tataran praktis, metode dan kurikulum yang mereka adopsi dan cocokkan dengan ajaran Islam, padahal konsep Barat berbeda dengan konsep Islam, baik dari budaya. Latar belakang keyakinan, nilai-nilai yang dihormati, jauh berbeda. Seharusnya pendidikan Islam diarahkan berdasar tujuan pendidikan yang disepakati pada komperensi pendidikan islam pertama di Mekah. Kalau tidak maka konsep pendidikan Barat dengan kurikulumnya tidak akan menyatu dengan konsep pendidikan Islam, karena pada dasarnya pendidikan Islam sangat berbeda pada beberapa prinsip.

Kurikulum tidak dapat disebut berciri Islam kalau sekiranya tidak semua subyek diajarkan dari sudut pandang Islam. Dan buku-buku dasar yang ditulis dari sudut pandang Islam. Dengan demikian untuk mendapatkan kurikulum yang benar-benar berwatak Islam masyarakat Muslim membutuhkan buku-buku teks dan sebuah metode pengajaran yang benar-benar berwatak Islam.

Pengembangan buku-buku teks, problema penyusunan kurikulum, serta bagaimana memformulasikan konsep Islam dalam rangka islamisasi ilmu pengetahuan. dengan berbagai permasalahannya dan pemecahannya.

Buku teks berisi bahan untuk dipelajari secara terinci oleh para pelajar, baik di rumah, sekolah, maktab, dan universitas. Ada pengunaan yang berbeda, baik dari segi jenjang pendidikan, perkembangan psikologis, moral dan intelektualnya. Tentunya penyusunan tersebut mengacu kepada aspek sudut pandang teknik, moral, intelektual, emosional atau spiritual tertentu. Di sisi lain, guru yang ingin membuat buku ajar hendaknya menguasai dan memahami teknik penulisan, bahan tertulis, memahami implikasi dan hubungannya terhadap konsep lainnya. Buku teks berisi bahan untuk dipelajari secara terinci oleh pelajar di rumah, sekolah, maktab dan universitas.

Konsep pendidikan Islam dapat secara praktis diwujudkan melalui kurikulum, yang harus dirumuskan pertama untuk menjamin bahwa buku-buku teks yang tepatlah yang dihasilkan. Hal –hal yang hendaknya diperhatikan dalam menyusun kurikulum Islam adalah, pertama, konsep Islam tentang manusia sangat luas. Kedua, pengetahuan adalah sumber kemajuan dan perkembangan, Islam tidak membatasi pencapaian pengetahuan. Ketiga, besarnya penilikan harus konprehensif. Keempat, aspek spiritual, moral, intelektual, imajinatif dan fisik dan kepribadian seseorang harus perhatikan ketika membuat interelasi antara berbagai disiplin.

Pertumbuhan kemampuan dan pikiran seorang anak harus menjadi pertimbangan untuk menyusun subyek dan rangkaian pelajaran dalam tahap-tahap yang bertingkat. Kelima, perkembangan kepribadian seharusnya dilihat dalam konteks hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam. Dalam, pengembangan kurikulum perlu juga pemantapan hirarki pengetahuan, pengetahuan intelektual hendaknya juga menjadi perhatian, termasuk keyakinan dan etika harus ditanamkan kepada seorang anak sejak tahap awal. Penjelasan tersebut merupakan hal-hal yang perlu menjadi perhatian dalam perencanaan kurikulum.

Rintangan kurikulum rencana pengembangan kurikulum Islam, seperti rintangan politik, rintangan tersebut biasanya datang dari pihak pemerintah, baik pemerintah saat itu maupun kebijakan pemerintah kolonial dan sekuler Barat. Rintangan filosofis, dianggap berat bagi perencanaan kurikulum Islam, sebagai contoh ketika sebuah Negara yang mayoritas muslim berusaha menyusun sebuah perencanaan kurikulum pendidikan yang searah dengan tujuan agama, tetapi di sisi lain, Negara itu juga menganut cita-cita yang berseberangan dengan tujuan pendidikan Islam.

Menurut Ali Asraf kontradiksi tersebut terjadi akibat kurangnya pemikiran dan hasrat untuk menyusun sebuah kompromi antara kebutuhan- kebutuhan Islam dan system pendidikan modern. Berhasil tidaknya islamisasi kurikulum Islam tergantung pada adanya konsep yang sesuai setiap cabang pengetahuan. Dari berbagai teknik yang dikembangkan oleh Barat, ada teknik yang baik, yaitu teknik dilakukan oleh Nabi dan para Sahabatnya, teknik tersebut adalah teknik mempraktekkan secara langsung.

Di sisi lain, penyusunan kurikulum sering terjebak dalam lingkarang filsafah hidup, sehingga kurikulum tidak memperhatikan pendidikan itu sendiri, padahal seharusnya kurikulum disusun untuk pendidikan bukan untuk falsafah pendidikan. Mungkin kalau falsafah tersebut berdasarkan sumber yang sama ada celah untuk titik temu, tetapi permasalahannya adalah tidak adanya titik temu dalam tingkat tujuan, isi dan pengaturan kurikulum. Seperti pertentangan tujuan, isi dan pengaturan terjadi Amerika Serikat. Menanggapi hal ini Ali Asraf menyatakan bahwa umat Islam hendaknya belajar tentang psikologi anak. Selama ini penyusunan kurikulum dalam Islam masih mengacu kepada konsep Barat yang pada dasarnya berasal dari pengembangan keilmuan Yunani. Tradisi keilmuan Yunani diislamisasi oleh para sarjana muslim. Menurut Ali Asraf yang perlu dilakukan adalah meniru gaya ilmuan muslim tersebut yaitu tradisi rasionalisme akademis, dengan mengikuti prinsip mereka dalam melakukan islamisasi.

Sebagaimana diketahui bahwa ilmuan muslim pada waktu itu mengislamisasi segala ilmu dan menjadikan ilmu itu berwatak islam. Berbagai ilmu tersebut berwatak Islam karena dimasukkan kedalam konsep islam. Dengan demikian menurut Ali Asraf rasionalisme akademis dari Barat membuat kurikulum yang menjadikan seseorang berbudi dan bukan orang yang religius.

Tetapi, tradisi pendidikan Islam membuat kurikulum yang menjadikan seseorang menjadi religius. Tetapi disayangkan tradisi pendidikan dewasa ini menurut Ali Asraf mengalami gangguan karena pengabaian sebagian besar cabang pengetahuan yang diperoleh, dan karena kurangnya formula konseptual yang dapat membantu mengasimilasikan cabang-cabang pengetahuan itu. Karena itu diperlukan riset-riset intensif untuk merumuskan konsep-konsep Islam untuk semua cabang pengetahuan. Menurut Ali Asraf berhasil tidaknya islamisasi kurikulum tergantung pada adanya konsep yang sesuai untuk setiap cabang pengetahuan. Sehingga sekulerisasi yang mendominasi semua cabang pengetahuan dapat digantikan oleh konsep Islam. Untuk itu perlu kerja keras para sarjana muslim untuk mewujudkan hal tersebut.

Menurut Ali Asraf untuk merealisasikan rencana kurikulum perlu realisasi praktis, di antara yang perlu segera dilakukan adalah menyusun proyek jangka pendek, yang proyek tersebut dilakukan secara serentak seperti pemikiran filosofis dan konseptualisasi harus mendahului penulisan buku-buku teks agar para penulis buku teks menulis sesuai dengan garis-garis yang telah ditetapkan, prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.perlu segera dibuat kurikulum untuk tingkat sekolah menengah dan madrasah di seluruh dunia Islam berdasarkan rekomendasi yang telah ditatapkan oleh pakar pendidikan islam dalam komperensi. Program jangka panjang perlu dilakukan adalah memasukkan filsafat pendidikan pada sekolah menengah, kalau perlu pada tingkat dasar. Sedangkan untuk jangka panjang perlu membuat buku-buku teks yang mengandung nilia- nilai Islami, merevisi buku-buku teks dan silabus universitas dalam semua cabangnya.. kemudian proyek jangka panjang lainya adalah dengan melakukan analisis kurikulum berdasarkan sudut pandang Islam. Dan yang terakhir adalah persiapan membuat antologi bahan bacaan, seperti ekonomi, sosiologi, histriografi, agama komparatif,, sains dan teknologi, serat bacaan lainnya. Dalam segi metodologi Ali Asraf memberi jalan keluar dengan menanyakan bahwa metode modern yang ada dapat di islamisasikan dengan diberi nilai relijius.

Dapat disimpulkan bahwa dalam buku Ali Asraf tentang Horison Pendidikan Pendidikan Islam, sebagai berikut; perlunya memberi definisi terhadap pendidikan Islam, menurut Ali Asraf Pendidikan Islam tidak hanya berarti pengajaran teologis atau pengajaran al-Quran, hadis, dan fiqh, seperti yang umum dipegang selama ini. Untuk membentuk pendidikan berwatak Islam, para ahli pendidikan dan pihak yang berkompeten hendaknya menunjukkan bagaimana prespektif total ini memberikan tanggapan seimbang mengenai manusia. Salah satu penyebab timbulnya konflik dalam masyarakat silam adalah sistem pendidikan dwi sistem pendidikan, yaitu pendidikan tardisional dan modern, dan untuk memadukan atau mengintegrasikan kedua hal tersebut adalah dengan kurikulum, silabus mata pelajaran dan buku-buku teks dibuat berdasarkn konsep Islam.

Integrasi hendaknya didukung oleh konseptualisasi dan latihan terhadap guru. Restrukturisasi pendidikan guru, karena guru menjadi model bagi siswa. Untuk itu guru hendaknya mengetahui teori Islam tentang pendidikan Islam dan diajarkan untuk menyadari akan keunggulan sistem pendidikan Islam dibanding dengan pendidikan Barat. Guru hendaknya menyadari bahwa pemikiran sekuler mendominasi setiap subyek, serta menyadarkan para guru akan pendekatan mereka selama ini yang penuh dengan pendekatan sekuler.Untuk itu kepada para guru hendaknya diperkaya dengan pendekatan Islam untuk menghadap setiap cabang pengetahuan. Buku ini penting bagi mahasiswa dan dosen serta praktisi Pendidikan Islam, terutama yang ingin memahami langkah-langkah islamisasi pengetahuan dan penyusunan kurikulum Islami.


***Sumber : blog.umy.ac.id/

PENDIDIKAN ALA UNESCO

 A.      PENDAHULUAN
Pendidikan bukanlah sebuah kata yang asing. Setiap manusia tidak bisa lepas dari kata pendidikan. Pendidikan sudah ada sejak manusia ada di muka bumi ini. Pendidikan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Bahkan bayi yang masih ada di kandungan pun mulai mengenal pendidikan dari ibunya walaupun tidak langsung. Bahkan mungkin kalau manusia bisa, binatang pun mengenal kata pendidikan. Walaupun kata pendidikan sangat dekat dengan kehidupan manusia, tetapi apa sebenarnya pendidikan itu? Apa hakekat dari pendidikan yang sesungguhnya? Apakah pendidikan hanya bisa dilakukan di sekolah-sekolah? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang mengusik penulis untuk menemukan jawabannya karena penulis juga terlibat langsung dalam dunia pendidikan.

Pendidikan merupakan kata benda yang berasal dari kata dasar “didik” yang merupakan sebuah kata kerja, kemudian mendapat awalan pe- dan akhiran –an yang kemudian berubah fungsi menjadi kata benda. Pendidikan sendiri adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (http://definisimu.blogspot.com). Jadi dalam hal ini definisi pendidikan dilakukan dengan sebuah proses pengajaran dan pelatihan. Proses pengajaran dan pelatihan itulah yang diharpakan akan mampu mengubah seseorang menjadi lebih baik dari sebelum mengalami proses pendidikan.

Bicara masalah pendidikan rasanya kurang lengkap apabila melupakan Bapak Pendidikan kita yaitu Ki Hajar Dewantara (1889 – 1959).  Beliau mendifinisikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti ( karakter, kekuatan bathin), pikiran (intellect) dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya. Jadi, menurut Beliau pendidikan tidak hanya peningkatan kognitif tetapi juga afektif dan psikomotorik.

Pentingnya pendidikan dalam kehidupan manusia memacu UNESCO (United Nations, Educational, Scientific and Cultural Organization) sebagai lembaga pendidikan dunia untuk mencanangkan 4 (empat) pilar pendidikan, yaitu (1) Learning to know, (2) Learning to do, (3) Learning to live together, dan (4) Learning to be. Keempat pilar pendidikan tersebut kemudian dijadikan patokan pelaksanaan pendidikan di seluruh dunia termasuk Indonesia.

B.      PEMBAHASAN
Empat pilar pendidikan menurut UNESCO mengandung makna mendalam bagi pemangku kepentingan pendidikan. Keempat pilar tersebut menjadi tujuan pelaksanaan pendidikan yang lebih luas. Sayangnya belum semua orang memahami makna dari keempat pilar pendidikan tersebut. Berikut ini akan dijelaskan makna dari masing-masing pilar pendidikan menurut UNESCO tersebut.

1.     Learning to know (Belajar untuk tahu)
Learning to know ini memiliki pengertian orang belajar agar menjadi tahu. Dengan kata lain, dari tidak mengetahui setelah dididik dan diajari menjadi tahu. Pendidikan ini sudah dilakukan di lingkungan yang paling kecil yaitu keluarga. Masih ingatkah ketika seorang anak kecil belajar berjalan? Dengan bimbingan dan pelatihan yang dilakukan dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, akhirnya anak tersebut bisa berjalan. Belajar yang lain misalnya belajar berbicara, makan, mengendarai sepeda dan lain-lainnya yang sebelumnya selalu dilakukan oleh orang tuanya tetapi lambat laun bisa melakukannya sendiri karena belajar dan dididik oleh orang tuanya. Begitu juga seorang anak akan belajar untuk bicara lebih sopan dan halus kepada orang tuanya dan orang lain karena dia belajar dan dididik bahwa bicara tidak sopan itu tidak baik untuk dilakukan.

Pengertian learning to know kemudian berkembang seiring perkembangan usia anak. Ada saatnya seorang anak harus terlepas dari orang tua untuk belajar di lembaga-lembaga pendidikan resmi seperti di sekolah-sekolah. Tetapi bukan berarti peran orang tua berhenti ketika anak mereka mulai mengenyam dunia pendidikan di sekolah. Hanya saja peran mereka sebagai pendidik di lingkungan keluarga akan dibantu oleh orang lain di lembaga pemdidikan yang mungkin tidak bisa mereka lakukan di rumahnya sendiri. Karena itu dalam pendidikan di sekolah ini peran guru sebagai pendidik sangat penting. Gurulah yang akan mengajarkan berbagai ilmu kepada anak bangsa, sehingga mereka menjadi tahu banyak. Penulis sangat ingat ketika dahulu memasuki SMP sangat takut dengan Bahasa Inggris. Maklum saja karena di SMP lah penulis belajar Bahasa Inggris untuk pertama kalinya. Dari guru Bahasa Inggrislah kemudian penulis tahu bahasa Inggris dari sebelumnya yang tidak tahu apa-apa tentang bahasa Inggris.

Dari pengalaman penulis tersebut peran guru sangatlah kompleks demi tercapainya tujuan pendidikan. Guru tidak hanya sebagai pendidik tetapi guru juga berperan sebagai sumber belajar bagi para siswanya, sebagai fasilitator yang siap memberikan pelayanan kepada siswa dalam proses pembelajaran, sebagai pengelola yang mampu  menciptakan iklim blajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara nyaman, sebagai demonstrator yang berperan untuk menunjukkan kepada siswa segala sesuatu yang dapat membuat siswa lebih mengerti dan memahami setiap pesan yang disampaikan, sebagai pembimbing, sebagai mediator yang harus memiliki keterampilan memilih dan menggunakan media dengan baik, serta sebagai evaluator untuk mengetahui keberhasilan pencapaian tujuan, penguasaan siswa terhadap pelajaran, serta ketepatan/ keefektifan metode mengajar (http://gears99.blogspot.com).  
Dari uraian di atas bisa dikatakan bahwa learning to know dalam prosesnya tidak sekedar mengetahui apa yang bermakna tetapi juga sekaligus mengetahui apa yang tidak bermanfaat bagi kehidupannya. Seorang anak yang berhasil dalam belajarnya akan menerapkan yang baik dalam kehidupannya dan akan meninggalkan atau tidak melakukan apa yang diketahuinya tetapi tidak baik untuk dirinya.

2.     Learning to do (Belajar berkarya)
Konsep learning to do menyiratkan bahwa siswa dilatih untuk sadar dan mampu melakukan suatu perbuatan atau tindakan produktif dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik (http://irsyakhafid.wordpress.com). Konsep ini berkaitan erat dengan learning to know karena dari apa yang dipelajari dan diketahui itulah yang akan digunakan untuk berbuat dalam masyarakat luas.   Dalam konsep komisi Unesco, belajar berkarya ini mempunyai makna khusus, yaitu dalam kaitan dengan vokasional. Belajar berkarya adalah balajar atau berlatih menguasai keterampilan dan kompetensi kerja. Sejalan dengan tuntutan perkembangan industri dan perusahaan, maka keterampilan dan kompetisi kerja ini, juga berkembang semakin tinggi, tidak hanya pada tingkat keterampilan, kompetensi teknis atau operasional, tetapi sampai dengan kompetensi profesional. Karena tuntutan pekerjaan di dunia industri dan perusahaan terus meningkat, individu yang akan memasuki dan/atau telah masuk di dunia industri dan perusahaan perlu terus bekarya. Mereka harus mampu doing much (berusaha berkarya banyak). Dengan kata lain, belajar berkarya atau learning to do merupakan aplikasi nyata dari apa yang diperoleh dalam proses learning to know yang didapat dari sekolah atau pelatihan. Seorang siswa yang memperoleh pengetahuan tetapi tidak menggunakannya untuk berkarya dalam masyarakat yang lebih luas, akan sia-sialah pengetahuan yang diperolehnya.

3.     Learning to live together (Belajar hidup bersama)
 Akhir-akhir ini kekerasan terjadi di mana-mana. Sekelompok siswa terlibat tawuran pelajar dengan siswa dari sekolah yang lain, masyarakat terlibat baku hantam dengan masyrakat yang lain hanya karena perbedaan agama, ras, dan warna kulit, bahkan sampai menimbulkan korban jiwa. Kalau dipikir, mengapa hal ini bisa terjadi? Apaka hanya karena perbedaan warna kulit, agama, suku bangsa akan menghancurkan bangsa ini?

Tidak bisa dipungkiri bahwa perbedaan selalu ada di setiap tempat. Manusia perlu menyadari bahwa hakekat hidup adalah berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat luas. Merupakan impian yang tidak mungkin terwujud dan mustahil apabila manusia mengharapkan berinteraksi dengan satu jenis kelompok saja karena Tuhan memang menciptakan manusia dalam keanekaragaman. Akan tetapi keanekaragaman itu seharusnya tidak dijadikan alasan untuk saling menyalahkan sehingga timbul pertengkaran. Keanekaragaman itu tercipta dengan satu tujuan yaitu agar manusia bisa menghargai keanekargaman tersebut sehingga bisa hidup dengan rukun dan damai.

Konsep learning to live together yang dicanangkan oleh UNESCO sangat pas untuk masyarakat sekarang ini, dimana pertengkaran dan peperangan antar rasa atau suku agama marak di mana-mana. UNESCO sebagai lembaga pendidikan dunia merupakan salah satu organisasi yang ikut bertanggung jawab terhadap keberhasilan pendidikan di seluruh masyarakat dunia. Keberhasilan pendidikan yang tidak hanya dilihat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi juga dari kecerdasan masyarakat dunia untuk bisa hidup dengan rukun dan damai di tengah-tengah perbedaan. Alangkah indahnya dunia ini apabila orang saling menghargai perbedaan yang ada di lingkungan mereka. Inilah intisari dari konsep learning to live together yang menginginkan manusia untuk saling menghargai perbedaan sehingga bisa tercapai kehidupan yang rukun, aman, dan damai.

4.     Learning to be (Belajar untuk menjadi diri sendiri)
Dalam sebuah kesempatan, biasanya setelah tes atau ulangan, kadang secara tidak sengaja penulis mendengar percakapan siswanya yang mengatakan,”Untung tadi pas aku nyontek tidak ketahuan oleh pengawas”. Di kesempatan lain penulis juga mendengar, “Kasihan si A ketahuan nyontek sama pengawas sampai kertasnya diambil”. Bahkan pernah penulis mendengar pengakuan langsung dari siswa SMA yang mengungkapkan keterlibatannya dalam menodai Ujian Nasional dengan saling tukar jawaban melalui HP. Yang membuat penulis gemes adalah peristiwa itu terjadi tidak hanya lintas ruang ujian tetapi bahkan sampai lintas sekolah.  Pada saat itu penulis hanya berpikir bahwa anak-anak sekarang kurang percaya pada kemampuan dirinya sendiri. Mengapa hal ini bisa terjadi? Kalau siswa sudah belajar dan mendapatkan pengetahuan dan keterampilan, hal ini tidak perlu terjadi.

Konsep learning to be berarti proses pemahaman terhadap kebutuhan dan jati diri. Untuk mendapatkan jati diri penguasaan pengetahuan dan keterampilan memang sangat dibutuhkan. Belajar berperilaku sesuai dengan norma dan kaidah yang berlaku di masyarakat merupakan salah satu proses pencapaian aktualisasi diri sendiri. Misalnya, dalam kasus siswa yang nyontek tersebut, dia sudah tahu bahwa salah satu norma atau aturan yang berlaku dalam tes tersebut adalah dilarang nyontek. Kalau masih terdapat siswa yang nyontek berarti dia belum belajar untuk menjadi diri sendiri. Dalam kasus ini peran guru sangat penting untuk memberikan pemahaman kepada siswa tersebut tentang pentingnya aktualisasi diri untuk menjadi dirinya sendiri, bukan menjadi orang lain. Gurulah yang berperan sebagai fasilitator agar siswa menyadari bakat, minat dan kemampuan mereka sehingga mereka bisa menjadi diri sendiri tanpa harus bergantung dengan orang lain lagi.

 PENUTUP
Pilar pendidikan menurut UNESCO tersebut terasa sangat pas untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang sesungguhnya. Antara pilar yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan dan mendukung sehingga menjadi satu kesatuan. Apabila dipahami dengan benar, pendidikan bukanlah sekedar mentransfer ilmu kepada siswa tetapi juga bagaimana menerapkan ilmu tersebut untuk mengembangkan potensi dirinya sehingga mampu hidup di lingkungan yang lebih luas dan beranekaragam.

Pendidikan tersebut tidak bisa dipisahkan dari peran guru yang bukan hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai pendidik. Mentransfer ilmu pengetahuan bisa dilakukan oleh siapa saja. Akan tetapi mendidik memiliki makna yang lebih dalam dari mengajar, dimana guru tidak hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan tetapi juga menciptakan generasi penerus bangsa yang mandiri dan berhasil mengaktualisasikan dirinya dalam masyarakat yang lebih luas. Hal ini tentu saja dibutuhkan guru yang mumpuni dan mengetahui jelas pilar-pilar pendidikan yang dicetuskan oleh UNESCO dan menerapkannya dalam proses belajar mengajarnya.

  Walaupun ke-empat pilar pendidikan yang dicetuskan oleh UNESCO bagus dan diharapkan bisa memajukan pendidikan di seluruh dunia termasuk Indonesia, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa untuk melaksanakannya masih banyak kendala dan halangan. Guru merupakan salah satu kendala untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang mulia tersebut. Di Indonesia, terutama, masih banyak guru yang perlu ditingkatkan kompetensinya karena untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut diperlukan guru yang benar-benar handal. Bagaimana mungkin tujuan pendidikan akan tercapai jika gurunya yang terlibat langsung dalam usaha mencapai tujuan pendidikan masih guru asal-asalan?

Kendala lain adalah fasilitas yang dibutuhkan  dalam proses belajar mengajar yang akan mendukung berhasilnya pendidikan. Di negara-negara maju siswanya belajar dalam ruang kelas yang nyaman dengan jumlah siswa yang terbatas, sarana prasarana tersedia lengkap. Tapi lihatlah di Indonesia. Berapa anak yang terpaksa belajar di bawah pohon karena gedungnya hampir roboh? Berapa anak yang tidak mengetahui apa itu internet? Bagaimanapun juga fasilitas yang tersedia mendudkung tercapainya tujuan pendidikan.

Selain itu pola pikir masyarakat tentang pendidikan yang berbeda juga merupakan kendala. Di negara yang pendidikannya maju pola pikir masyarakat terhadap pentingnya pendidikan tinggi, sehingga mereka bisa bekerjasama saling bahu membahu demi mencapai tujuan pendidikan. Tetapi lihatlah masyarakat Indonesia. Apalagi setelah pemerintah menyediakan dana BOS yang mewajibkan setiap siswanya bebas dari pungutan apapun. Sekilas memang bagus karena memikirkan masyarakat yang tidak mampu. Tetapi tahukah imbasnya terhadap pola pikir masyarakatnya? Berapa orang tua yang salah tafsir terhadap program pemerintah sehingga menuntut apa-apa gratis, bahkan sampai kepada siswanya. Lalu bagaimana dengan masyarakat yang mampu? Adilkah bila mereka juga terbebas dari segala pungutan karena mereka disamakan dengan keluarga yang tidak mampu? Apa kontribusi mereka terhadap sekolah untuk mewujudkan tujuan pendidikan?

Bagaimanapun bagusnya tujuan pendidikan, satu hal yang perlu diluruskan yaitu bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tanggung jawab guru atau lembaga tertentu tetapi masyrarakat pun mempunyai tanggung jawab yang sama. Oleh karena itu sudah saatnya seluruh masyarakat bekerja bersama demi tercapainya tujuan pendidikan seperti yang dicetuskan oleh UNESCO sebagai lembaga pendidikan resmi tingkat dunia. Dengan menyadari pentingnya pendidikan dan saling bekerja sama untuk mewujudkannya, bukan tidak mungkin tujuan mulia dari pendidikan akan tercapai.

 REFERENSI
http://irsyakhafid.wordpress.com/2011/12/17/4-pilar-pendidikan-menurut-unesco-dan-5-pilar-pendidikan-di-indonesia/ ;  
http://rstdjogdja80.blogspot.com/2012/03/5-pilar-pendidikan-menurut-unesco.html;
http://11093dinar.blogspot.com/2012/03/4-pilar-dalam-pendidikan-menurut-pbb.html;
http://dayanmaulana.blogspot.com/2010/06/empat-pilar-pendidikan-menurut-unesco.html;
http://musliadiuhamka.blogspot.com/2012/01/4-pilar-pendidikan-menurut-unesco.html;
http://gears99.blogspot.com/2012/04/empat-pilar-pendidikan-menurut-unesco.html;
http://definisimu.blogspot.com/2012/07/definisi-pendidikan.html;
***yk-edu.org/

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *